Showing posts with label Self-develpment. Show all posts
     
realarticel.com
      Arus globalisasi yang kian meroket zaman sekarang menuntut anak muda untuk punya ketrampilan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Dunia yang tanpa batas ini memungkinkan turis asing makin banyak berdatangan, orang Indonesiapun makin banyak melancong ke luar negeri. Bukan nggak mungkin kalau mereka-yang-hanya-mengandalkan-bahasa-lokal-saja akan tersisih di dunia yang serba multinasional ini.

     Bukan hanya pintar grammar, hafal kosakata atau membaca teks bahasa Inggris saja, kita perlu juga mempraktekkannya untuk bercakap-cakap. Nggak harus menguasai banget kok, setidaknya kamu paham dengan kalimat-kalimat yang sering digunakan ini agar nggak salah paham. Catat dan hafalkan baik-baik, ya!

1. Sorry for bothering = maaf mengganggu atau maaf merepotkan


Kamu bisa gunakan istilah ini saat kamu ingin menyampaikan keluhan dengan sopan tanpa bermaksud mengganggu atau menyinggung. Ya, basa-basi dikit gitu…

“I am sorry for bothering you, but your dogs should be caged. They scared my parents.”

“Saya minta maaf karena mengganggumu, tapi anjingmu harus dikandang. Mereka membuat orangtua saya takut.”

2. I’m on my way = aku dalam perjalanan

Saat seseorang menunggumu, ucapkan istilah ini untuk membuatnya lega, asal kamu benar-benar sedang dalam perjalanan, ya! Alias nggak pakai ‘jam karet’ a la orang Indonesia.



“Wait a minute, Ted. i’m on may way to campus.”

“Tunggu sebentar, Ted. Aku dalam perjalanan menuju kampus.”


3. Take it easy = ajakan untuk santai atau dibawa asyik saja

Istilah ini sama dengan saat kamu mengucapkan “woles”, atau “santai aja lagi…”

“The exam is not difficult, so take it easy”

“Ujiannya nggak sulit kok, jadi santai aja”

4. Don’t mention it = nggak sama sekali atau bukan apa-apa

Sama dengan not at all, istilah don’t mention it adalah cara yang bisa dibilang sopan untuk merespon ucapan terima kasih dari orang lain. Bisa jadi ungkapan bahwa kamu nggak merasa direpotkan sama sekali.

A: “Thank you for your help, Lisa.”

B: “Don’t mention it”

A: “Terima kasih atas bantuanmu, Lisa.”

B: “Sama-sama/ah, bukan apa-apa”

5. Get out of my face = pergi dan jangan ganggu aku lagi
shout
get out of my face via nymag.com

Nah, ini istilah ampuh saat kamu sedang nggak mau diganggu.

“Get out of my face! I’m busy right now”

“Pergi dan jangan ganggu aku! Aku sedang sibuk sekarang”

6. Help yourself = silakan atau anggap rumah sendiri


Jika seseorang mengatakan istilah ini padamu, itu artinya kamu dipersilakan mengambil atau menggunakan sesuatu.

“Help yourself to food.”

“Silakan ambil makanan.”

7. I’m in a hurry = aku sedang terburu-buru

Jika biasanya kamu hanya mengetahui “hurry up” yang artinya “cepatlah”, maka kamu bisa ucapkan “i’m in a hurry” saat sedang terburu-buru.

“I’m in a hurry, I’ll talk to you later.”

“Aku sedang terburu-buru, lanjut ngobrol lagi nanti.”

8. Stay out of this = jangan ikut campur

Nah, ini termasuk kalimat penegasan juga. Tepatnya, ucapkan saat kamu nggak mau urusanmu dicampuri orang lain.

“Could you stay out of this?”

“Bisakah kamu nggak ikut campur dalam urusan ini?”

9. Stop being such a baby = jangan manja


Selain kamu bisa bilang “don’t be a spoiled children”, kamu juga bisa mengucapkan “stop being such a baby” untuk bilang “jangan manja” ke orang lain. Ya, agak kasar sih memang…

“Wash your own cloth, stop being such a baby!”

“Cuci bajumu sendiri, jangan manja!”

10. Let’s get on the move = mari bergegas

Istilah ini bisa diucapkan kapanpun kamu butuhkan, terutama saat kamu ingin mengajak orang lain untuk bergegas melakukan sesuatu.

“We don’t have much time, let’s get on the move!”

“Kita nggak punya banyak waktu, mari bergegas!”

11. I can’t say for sure = aku nggak bisa memastikannya

Istilah ini diungkapkan saat kamu merasa nggak bisa memastikan tentang suatu hal, atau kamu merasa ragu-ragu akan suatu hal.

“I can’t say for sure, I’m not an expert on calculation”

“Aku nggak bisa memastikannya, aku nggak ahli soal perhitungan”

12. Kill the leisure time = mengisi waktu luang

Kill bukan berarti membunuh, dalam hal ini, kamu bisa bilang istilah “kill the leisure time” ini berarti mengisi waktu luang.

“What are you usually doing for kill the leisure time?”

“Apa yang biasanya kamu lakukan untuk mengisi waktu luang?”

13. No littering = jangan buang sampah sembarangan

Simpel ya, dalam bahasa Indonesia berarti panjang, tapi kamu cukup mengucapkan “no littering” untuk bisa bilang “jangan buang sampah sembarangan”. Ini termasuk istilah untuk larangan.

“No littering or you will pay a fine!”

“Jangan buang sampah sembarangan atau kamu akan bayar denda!”

14. Nothing particular = nggak ada yang spesial atau khusus


Gunakan istilah ini jika kamu merasa nggak ada hal khusus atau spesial mengenai sesuatu hal.

“I have nothing particular to say now.”

“Aku nggak punya hal khusus untuk dikatakan sekarang.”

15. I’m stuck on you = aku tergila-gila padamu


Lebih dari “I like you” atau “I adore you”, kamu bisa gunakan istilah “I’m stuck on you” saat kamu tergila-gila dengan seseorang.

“You are so pretty and nice, I’m stuck on you”

“Kamu sangat cantik dan baik, aku tergila-gila padamu”

Nah, istilah-istilah yang Hipwee Tips sebutkan tadi hanyalah sedikit contoh dari istilah-istilah bahasa Inggris yang sering diucapkan dalam percakapan. Siapa tahu ada istilah yang belum kamu pahami dengan benar selama ini. Semoga lain waktu HIpwee Tips bisa berbagi istilah-istilah lain untuk menunjang perbendaharaanmu, ya. Selamat belajar!

sumber : hipwee
self development
With each passing day, the bar for excellence grows higher. New innovations come, someone hungrier and more talented than you enters the market, and external conditions change all around you. What was good enough yesterday, no longer is today. Professional sports is a shining example of this phenomenon. It seems new world records are set left and right.

If you want to succeed and maintain your level of success over the long term, you cannot get complacent with your current level of proficiency in a particular area. You’ve got to find a way to continue to grow, improve and evolve.


The good news is, there are a few strategies you can employ to help you improve your performance and achieve excellence. And they are backed by science. These approaches come from research by sociologist professor Daniel Chambliss. He studied athletes over a number of years to uncover what separated Olympic swimmers from others who invested similar amounts of time training and competing.

1. Focus on technique.
In The Mundanity of Excellence, where Chambliss published his findings, he noted a key factor that separated the good from the great was the way in which they executed similar tasks. Those at the top of their field had significantly better technique.

Better technique comes from an intense focus on mastering the fundamentals. So much so, that excellence becomes a habit.

To get started, focus on perfecting one small area of a task you are working toward improving. Once you’ve mastered it, choose another small but connected skill to practice deliberately.

Let’s say your goal is to become a better public speaker. First, you might work on how to deliver engaging openings. After you get to a point you’re pleased with, you could move on to effectively using visuals, followed by working on your storytelling ability, and so on.

The combined impact of mastering small individual elements will compound in time to help you perform at a higher level overall.

2. Choose the right motivations.
Many people’s reason for doing particular tasks is the big end result. That might be winning an award, landing a major client, getting a coveted promotion, or in the instance of Chambliss’ work, winning the Olympics.

But top performers are fueled by smaller motivations. When you are playing the long game in terms of reaching a grander vision, at times, the length of time between mountaintop experiences is quite long.

Thus, you’ve got to be motivated to show up day after day to put the work in so that you can find joy in smaller wins. These will fuel your commitment to doing the work in between the milestone moments.

“Swimmers go to practice to see their friends, to exercise, to feel strong afterwards, to impress the coach, to work towards bettering a time they swam in the last meet,” Chambliss notes. “Sometimes, the older ones, with a longer view of the future, will aim towards a meet that is still several months away. But even given the longer-term goals, the daily satisfactions need to be there. The mundane social rewards are crucial.”

These smaller motivations could be the feeling of euphoria you get after completing a workout, publishing a new article, interacting with beloved clients on a daily basis. It could even come from the joy that comes during the journey of doing your work.

The little things will keep your spirits high and keep you going. Especially when the big wins are few and far between.

3. Maintain mundanity as you work.
No one wants to get their big break and then fall flat on their face. You work too hard for big opportunities to come your way to not be able to capitalize on them due to a lapse in performance.

That means you’ve got to approach every task you are working to complete in the same manner, so you can produce predictable results no matter the circumstances. That may mean preparing for a speech in front of 10,000 people the same way you would a group of 10.

This helps you focus your efforts on executing proper technique on the individual elements you worked so hard to master during your deliberate practice. It will help you produce optimal results.

“Winners don’t choke,” Chambliss writes. “Faced with what seems to be a tremendous challenge or a strikingly unusual event such as the Olympic Games, the better athletes take it as a normal, manageable situation (‘It’s just another swim meet,’ is a phrase sometimes used by top swimmers at a major event such as the Games) and do what is necessary to deal with it. Standard rituals (such as the warmup, the psych, the visualization of the race, the taking off of sweats, and the like) are ways of importing one’s daily habits into the novel situation, to make it as normal as possible.”

When you train your mind to focus on what you need to do to successfully complete the task at hand, you minimize any anxious emotions that can serve to throw you off your game at precisely the wrong time.

It’s time for you to perform at a higher level.

It isn’t about the amount of talent you have. Or even the level of success you’ve achieved in the past. In today’s world, continuous improvement is a requirement rather than an aspiration.

So follow the proven approaches above to consistently step up your game, so you can perform at your best. Then you’ll be able to experience many more big wins. That success will come as a reward for your intentional effort.

sumber : success.com
business

Comfortable, but uncomfortable. These were the contrasting feelings I had while sitting in an impossibly inviting chair during chemotherapy, hooked up to tubes and machines that were pumping my body with life-saving radiation.
It was during these sessions, observing the courageous cancer survivors surrounding me, that a thought began to evolve. I watched fellow patients sift through and sit with their discomfort and wondered about their specific situations and stories.
Despite a shared unease, we all sought treatment from a diverse set of life circumstances. The woman next to me was back after skipping sessions because she couldn’t get time off work; the man across from me had to scrounge for bus fare just to get there; catty-corner from me, a mother of three was grateful to get a sitter long enough to make the trip in.
Learning their unique narratives had a profound effect on me—for the duration of the chemotherapy and for every gratitude-filled day that has followed. I realized during those treatments that regardless of whether it’s grief or joy, fear or hope, we’re all in this together. I realized I wanted to help people heal.
From distress comes drive.
During treatment, I saw people trying to help their loved ones but not knowing how. After all, during times of hardship, it’s extremely difficult to find the “right” thing to do or say. Friends would often send me homemade meals in giant Tupperware containers. It was a kind gesture, but I couldn’t eat it all, and then I struggled to manage washing and returning the containers.
I realized people needed a way to communicate hope and kindness to their loved ones—a sentiment that became the impetus for our company. It didn’t come from any business acumen or lucrative profit model; it materialized from the human instinct and self-reliance that I’d honed while ill. That desire for healing inspired me to develop our business model that donates 10 percent of our revenue to an assortment of charities that heal our planet and protect the people and animals living on it.
This nontraditional business approach comes from the edge that adversity instilled within me. Going through my ups and downs and watching others do the same gave me the push I needed to pursue the kinds of personal and professional endeavors I’d always wanted to pursue.
Here are some additional insights I gleaned from times of personal strife that influenced and inspired our business:
1. Quiet the chaos. 
In our working lives, we’re surrounded by information—tasks to complete, blogs to read, people to consult. When you’re facing adversity in your personal life, that noise is still there, but learn to focus differently to find that flow.
Sift out the noise and set attainable goals that help you move through adversity and connect to the most important things in your life. The big-picture items you’re pushing toward can be your treatment plan, your family, or—when you’re well again—your vision for bettering the world.
2. Find your center. 
When you’re in survival mode, life can feel completely out of your control. Everything in your orbit feels like it’s in a precarious position, just moments away from veering off-kilter. That’s why it’s so important to incorporate achievable hobbies and actions, things that gratify you, into your daily routine.
Infuse your daily livelihood with joy and peace to find what inspires a quiet calm. Volunteer at a dog shelter; learn to code and start your own programs. Use your time to experiment with something you’ve never done before that brings you a sense of joy. Attaining that sense of calmcan put you in the proper physical and mental space to face adversity head on and come out on the other side centered.
3. Appreciate every day. 
Since overcoming cancer, I work and love with more force and more joy than ever before. In times of personal difficulty, it’s easy to feel like you don’t have any choices. But how you seize the day is a choice that’s forever yours, so seize it with resolve and gratitude. Any milestone in life, whether it’s surviving cancer or turning 50, lights a fire under you and makes you want to seize the day.
Studies show that resilience is a powerful skill in the world of work. The ability to bounce back after adversity, to rely on yourself and to use your own mental resources to survive, has been shown to lead to greater staying power and success. In fact, U.S. employers are rapidly catching on to the value of resilience and are actively training their employees in it.
Use hardships to fuel your personal and professional goals, but don’t be afraid to stop and smell the roses. Assess your own efforts and those of your colleagues and put each in perspective. Reward yourself for a job well done, but recognize the work of those around you, either with kind words or other incentives. Appreciating that effort shows how far you’ve come from those adverse beginnings and also reveals that you still have work to do.
Despite any discomfort we might feel when it’s happening, adversity can lead to appreciation, hardships can spark creativity, and grief can give way to gumption when it’s all channeled into positive efforts. Moving through challenges and coming out on the other side can inspire and influence your professional life as much as your personal one.
sumber : success.com

cara greget MOVE ON dari mantan
cara greget MOVE ON dari mantan 

siapa sih yang bisa langsung Move On? Susah tau,,, ahh Gampang,, ahh sudahlah daripada debat yuk baca aja nih!!  mmm...  ni gua kasih tau caranya moga manfaat yah.. 


1.Berikan Diri Anda Ruang

Biarkan diri Anda berduka. Ketika Anda mencintai seseorang yang tidak mencintai Andai, hal itu memang menyakitkan. Maka, untuk dapat melepaskan mereka, Anda akan harus membiarkan diri Anda berduka atas rasa sakit itu. Tidak ada yang salah dengan harus berduka selama Anda tidak terjebak di sana. Bahkan, membiarkan diri Anda bersedih lebih sehat daripada mencoba dan menekan emosi.
Jika Anda bisa, ambil sedikit waktu untuk keluar dari keseharian Anda untuk memproses kesedihan. Hal ini akan membantu menciptakan ruang penyembuhan bagi Anda dalam mengatasi kesedihan tersebut. Sebagai contoh: ketika Anda menyadari bahwa orang ini tidak akan mencintai Anda kembali, maka Anda harus menyediakan waktu untuk menyendiri di suatu tempat, bahkan jika itu hanya akan sekadar 15 menit berjalan kaki di sekitar rumah.
Hindari berkubang dalam keputusasaan. Jika Anda tidak meninggalkan rumah Anda dalam beberapa minggu, Anda tidak mandi, dan Anda mengenakan kaus usang yang seharusnya sudah menjadi lap, Anda terlalu berlebihan. Wajar untuk merasa sedih, tetapi jika Anda tidak mencoba mendapatkan fokus pada kehidupan Anda kembali, Anda akan terus memikirkan dan mencintai orang lain tersebut.

2.Hindari orang tersebut untuk beberapa saat
Bagian dari upaya menciptakan ruang bagi diri Anda untuk berduka dan move on, adalah dengan tidak memiliki orang ini sebagai bagian dari hidup Anda. Anda tidak perlu menghapusnya dari kehidupan Anda, tetapi Anda perlu mengambil waktu untuk menghindar darinya selama beberapa saat.
Jika orang yang Anda cintai adalah seseorang yang Anda sangat bergantung padanya di masa lalu dalam dukungan emosional, carilah teman berbeda untuk membantu mengisi peran itu.De-friend mereka di media sosial, atau setidaknya sembunyikan pos mereka, hapus kontaknya dari ponsel Anda sehingga Anda tidak tergoda untuk kembali menghubunginya. Anda tidak ingin terus-menerus diingatkan tentang mereka dan segala sesuatu yang mereka lakukan. Hal ini hanya akan mempersulit untuk menjaga jarak

3.Sadarilah Anda lebih baik tanpanya
Tidak peduli seberapa baik orang tersebut, Anda akan lebih baik tanpa mencintai seseorang yang tidak mencintaimu kembali. Selanjutnya, jatuh cinta dengan seseorang bisa membuat Anda buta terhadap kekurangan mereka. Berhenti mencintai mereka berarti melihat alasan mengapa hubungan antara Anda dan dirinya mungkin tidak berhasil.
Buatlah daftar kekurangan mereka. Pasti ada hal-hal yang menjengkelkan dalam diri semua orang, dan bahkan pada orang yang Anda cintai. Apakah dia norak? Apakah dia seorang Player? Apakah selera humornya mengerikan? Jika Anda mengalami kesulitan menyusun daftar, minta bantuan teman yang Anda percaya.

4.Jangan Menyalahkan Mereka
Sama seperti Anda yang tidak memiliki kontrol atas Anda yang jatuh cinta padanya, mereka juga tidak memiliki kontrol atas perasaannya yang tidak jatuh cinta pada Anda. Jika Anda menyalahkan mereka karena Anda di Friendzone oleh mereka, atau mengatakan mereka jahat karena tidak mencintai Anda kembali, maka Anda hanya akan membuat diri Anda terlihat menyedihkan
Lebih penting lagi, jangan menulis bahwa mereka memiliki selera yang buruk dalam memilih pasangan di media sosial. Jika hal tersebut adalah bagaimana Anda menangani situasi seperti ini, maka mereka mungkin ada benarnya dengan tidak mencintai Anda.

5.Singkirkan kenang-kenangan
Mungkin memang sulit dan bisa saja Anda dapat bersedih, tapi itu merupakan langkah penting dalam proses penyembuhan. Memiliki kenang-kenangan tersebut di sekitar kita hanya akan mempersulit proses penyembuhan Anda dan bukan itu yang Anda harapkan! Anda tidak perlu membakar kenang-kenangan tersebut dan Anda harus menghindari mengirim kenang-kenangan itu kembali kepada seseorang yang tidak mencintai Anda.

6.Hindari pemicu memori
Sulit untuk menyembuhkan diri dari cinta yang tak terbalas jika Anda terus-menerus mengingatkan diri sendiri tentang orang itu. Hindari mencari lagu yang mengingatkan Anda tentang orang tersebut, atau waktu yang indah Anda lalui bersama, dan berhenti mengasosiasikan hujan dengan memori Anda bersamanya.
Jika Anda tanpa terduga bertemu pemicu tersebut, lebih baik untuk mengakui momen tersebut dan move on darinya. Anda tidak harus menghindari pemicu ini selamanya. Anda hanya ingin membuat penyembuhan diri Anda semudah mungkin dan pengingatkonstan akan mempersulit proses ini. Ketika Anda sudah berhasil move on, pemicu memori tersebut mungkin masih akan mengingatkan Anda pada orang tersebut, tetapi akan tidak terlalu menyakitkan.

7.Membicarakannya dengan seseorang
Hal yang bagus untuk dapat mengeluarkan aspek emosional dan kesulitan dari proses penyembuhan ini dari dada Anda. Cari seseorang untuk diajak bicara tentang apa yang Anda rasakan dan apa yang Anda alami. Pastikan bahwa itu seseorang itu adalah orang yang Anda percaya. Bisa teman Anda atau bisa juga anggota keluarga yang memungkinkan Anda menghubungi mereka ketika Anda sedang gundah. Bahkan bisa juga seorang terapis. Anda juga dapat membuat jurnal tentang perasaan Anda jika Anda merasa tidak ingin membicarakannya dengan orang lain. Dengan jurnal, Anda dapat melacak proses penyembuhan Anda, yang akan memberikan bukti bahwa Anda dapat move on dari cinta yang tak terbalas.

8.Alihkan diri Anda
Setiap kali kenangan itu meluap, alihkan perhatian Anda dengan pemikiran yang lain, aktivitas, atau proyek. Menonton film komedi. Temukan sesuatu yang melibatkan Anda cukup lama untuk bisa menyingkirkan orang dari pikiran Anda untuk sementara waktu. Hindari untuk mencoba memaksa diri untuk tidak berpikir tentang mereka, karena hal itu hanya akan mengubah fokus Anda dan justru lebih sering memikirkan mereka. Sebaliknya, ketika Anda menemukan diri Anda berpikir tentang mereka, alihkan perhatian Anda padahal lain.

9.Jangan menyabotase penyembuhan Anda sendiri
Ada hal-hal yang harus dihentikan untuk dikatakan kepada diri sendiri. Pola-pola pemikiran tersebut dapat menyabotase proses penyembuhan Anda dan membuatnya jauh lebih sulit untuk move on dari cinta Anda. Berhenti mengatakan: Aku tidak bisa hidup tanpanya; Aku tidak bisa berhenti mencintainya; Aku menyukai orang ini lebih dari yang lain; Aku tidak bisa mencintai orang lain; Tidak ada yang lebih baik daripada orang ini; Dialah yang sempurna.
Ingatkan diri Anda bahwa orang-orang dan situasi berubah. Apa yang Anda rasakan sekarang bukanlah apa yang akan Anda rasakan selama sisa hidup Anda. Melupakan seseorang yang Anda cintai memang tidak mudah. Setiap kemajuan yang Anda buat dalam melupakan mereka harus dirayakan. Anda juga harus ingat bahwa hanya karena orang ini tidak mencintai Anda kembali, bukan berarti tidak ada orang yang akan mencintai Anda.


Selamat mencoba ya semoga berhasil meski tak mudah dan butuh waktu juga ya :)
Langkah Mudah Meraih Percaya Diri Yang Bisa Berhasil
Langkah Mudah Meraih Percaya Diri Yang Bisa Berhasil

PERCAYA DIRI: DIMILIKI ATAU DILAKUKAN?

Percaya diri adalah sebuah kondisi pikiran. Artinya sebuah kondisi. Bukan sebuah benda sehingga harus dimiliki, bukan juga sebuah rencana yang harus dilakukan. Yang harus Anda lakukan ialah bagaimana mengkondisikan pikiran Anda sehingga Anda yakin bahwa Anda memiliki potensi dan kemampuan untuk melakukan sesuatu.

Menurut Thantaway dalam Kamus istilah Bimbingan dan Konseling (2005:87), percaya diri adalah kondisi mental atau psikologis diri seseorang yang memberi keyakinan kuat pada dirinya untuk berbuat atau melakukan sesuatu tindakan.
Untuk itulah mengapa saya memiliki kata “meraih” bukan melakukan atau memiliki. Kecuali jika Anda menggunakan kata “kepercayaan” maka Anda boleh menggunakan kata memiliki karena memang sudah dibendakan. Lho, koq malah membahas bahasa? Ini bukan inti pembahasan kita, hanya saja menjawab orang yang meributkan apakah percaya diri dimiliki atau dilakukan. Sekarang sudah jelas.

MENGAPA HARUS MERAIH PERCAYA DIRI?

Ok, saya sudah banyak membahas tentang manfaat percaya diri pada artikel-artikel lainnya. Manfaat percaya diri itu diantaranya:

Agar Anda mendapatkan Lowongan Kerja Bayaran Tertinggi.
Sebagai langkah awal Menuju Perubahan Besar.
Bahkan, ini adalah Rahasia Berubah Secara Instan.
Sebenarnya, percaya diri adalah Dasar Tindakan Anda.
Bagaimana Dengan Percaya Diri Menghasilkan Lebih Banyak Uang.
Dan tentu saja, masih banyak manfaat-manfaat lainnya mengapa kita harus meraih percaya diri. Sangat berguna untuk seluruh aspek kehidupan Anda, baik bisnis, karir, relasi, maupun dakwah. Tingkat kepercayaan diri Anda akan tergambar dari tingkat keberhasilan Anda pada bidang-bidang yang Anda geluti.

CARA MERAIH PERCAYA DIRI

Melakukan Sesuatu Secara Bertahap

Banyak strategi dan taktik yang bisa kita gunakan untuk meraih percaya diri. Diantaranya harus dipraktekan langsung dalam satu sesi latihan. Namun bagi Anda yang tidak sempat latihan, saya tuliskan disini salah satu dari strategi meraih rasa percaya diri dengan mudah dan bisa dilakukan dalam kehidupan Anda sehari-hari.

Pilihlah satu aktivitas dimana Anda merasa kurang percaya diri melakukannya.
Tetapkan tolak ukur keberhasilan dari aktivitas tersebut.
Contohnya berbicara saat rapat, Anda bisa menetapkan berbagai tolak ukur seperti berani berbicara, berbicara tanpa gemetar, birbicara tanpa kelu, berani menatap peserta rapat saat bicara, berani menatap bos Anda, dan sebagainya.
Tetapkan target Anda. Saat ini Anda takut untuk berbicara, tagetkanlah untuk berani berbicara meskipun hanya beberapa patah kata.
Setelah satu target terpenuhi, tingkatkan target Anda misalnya berbicara tanpa gemetar (jika masih).
Terus lakukan sampai Anda bisa mencapai semua keberhasilan yang Anda tetapkan Bersyukur dan buat perayaan, sekecil apapun.
Anda bisa melakukan langkah-langkah yang sama untuk meraih percaya diri pada bidang lain, misalnya dengan keterampilan tangan. Contohnya kemampuan Anda membuat hal-hal yang sangat detil. Contoh nyatanya ialah ada seorang yang tangannya dianggap tidak terampil. Jangan membuat kerajinan tangan, menancapkan paku ditembok saja tidak bisa. Tetapi setelah melakukan latihan seperti metode di atas, dia bisa membuat miniatur kapal laut yang sangat detil. Rasa percaya dirinya sekarang sudah sangat tinggi. Dia menjadi percaya diri dengan teknik ini.

Inti dari strategi ini ialah peningkatan secara terus-menerus. Sedikit demi sedikit tetapi jika Anda lakukan secara kontinyu Anda bisa menjadi seseorang yang mahir dan percaya diri dengan mudah. Anda juga bisa mahir berbisnis jika Anda mulai sekarang mulai berbisnis mulai dari kecil terlebih dahulu. Biasakanlah sehingga suatu saat Anda akan mahir berbisnis.

Memang teknik ini tidak menghasilkan rasa percaya diri dengan cepat. Tetapi hasil dari strategi ini akan mendalam dan berbekas yang lama. Dalam pelatihan yang saya selenggarakan, saya selalu menggabungkan konsep lambat tetapi membekas dengan konsep cepat. Setelah pelatihan Anda langsung meraih percaya diri dan terus membekas di dalam diri Anda melalui latihan yang saya uraikan di atas.

Bisakah Percaya Diri Dengan Memperbaiki Penampilan?

Apakah percaya diri itu dengan tampil tanpa jerawat? Kulit putih? Pakaian dan aksesoris yang keren? Atau dengan memiliki kendaraan yang mewah?

Jika Anda mengatakan memang bisa percaya diri karena mobil mewah, maka saya mau bertanya kepada Anda, apakah Anda percaya pada diri sendiri atau percaya mobil?

Dengan penampilan yang baik, Anda akan berani tampil. Anda tidak takut mendapatkan celaan atau diremehkan oleh orang lain. Penampilan mungkin akan membantu Anda tampil percaya diri, namun sebenarnya, letak percaya diri itu ada di pikiran atau di mental Anda. Jangan terjebak dengan percaya diri yang semu.

Mungkin Anda pernah mendengar ungkapan seperti ini,

“Meski pun mobilnya jelek, tetapi orang itu tetap PD menghadapi orang besar.”

Artinya, bukan mobil atau penampilan yang menyebabkan seseorang itu PD, tetapi ada di pikirannya.

Silahkan tampil sebaik mungkin, tetapi jangan lupa untuk meningkatkan kondisi mental Anda sehingga mampu melakukan hal-hal yang hebat.
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali

Apa yang Anda rasakan saat melihat atau mendengar kesuksesan seseorang?

Terutama di jaman social media ini, Anda akan dengan mudah menemukan status atau foto-foto yang menunjukkan keberhasilan seseorang di suatu bidang. Entah itu berhasil deal project besar, screenshot penghasilan yang didapatkan dari internet, pencapaian tingkatan jabatan tertentu, atau bahkan sekedar foto-foto saat jalan-jalan ke luar negeri.

Apa yang Anda rasakan?

Ikut senang dengan pencapaian mereka
Terpicu semangat untuk bisa seperti mereka
Tidak suka dan langsung nyinyir mengatakan mereka pamer
Tapi selain tiga perasaan di atas, ternyata ada juga yang punya perasaan lainnya yaitu:

“Iri dengan pencapaian mereka, ingin seperti mereka, tapi merasa tak berdaya, merasa tak mungkin bisa mencapai semua itu karena merasa tidak mampu menjadi seperti mereka”.

Apakah ada di antara Anda yang merasa seperti itu?

Kalau iya, maka mari kita lihat rasa tidak mampu ini dari dua sisi.

Pertama, pernyataan tersebut keliru.

Kenapa? Karena belum tentu Anda tidak mampu. Anda mungkin tidak berbakat, tapi bukan berarti tidak akan pernah mampu.

Bagaimana Anda tahu kalau Anda mampu atau tidak?

Satu-satunya cara adalah “mencoba dan berusaha semaksimal mungkin”.

Tetapi hati-hati dengan ilusi rasa tidak mampu ketika Anda terlalu cepat menyerah padahal usaha belum optimal, karena bisa terjadi pada saat baru juga mencoba sedikit Anda sudah menyimpulkan dan membuat keputusan bahwa Anda tidak mampu.

Sebagai contoh, Anda merasa pemalu dan tidak mampu berpromosi walaupun hanya sekedar menulis status jualan di social media. Tapi jika Anda tidak berpromosi maka tidak akan ada seorangpun yang tahu apa yang Anda jual.

Lalu ketika Anda akhirnya memberanikan diri untuk menulis status bahwa Anda menjual kopi sachet merek A, dan ternyata tidak ada respon dari seorang pun, bahkan di-like pun tidak, Anda pun langsung menyimpulkan bahwa jualan Anda tidak laku, lalu Anda mundur dan tidak berani jualan lagi.

Apakah itu usaha yang maksimal?

Tentu saja bukan. Kita tidak bisa mengukurnya hanya lewat satu dua kali promosi. Karena yang namanya promosi bukanlah sekedar pasang status bahwa kita menjual sesuatu. Bagaimana cara kita menjualnya pun memegang peranan yang penting.

Kalau Anda menyimpulkan Anda tidak mampu jualan padahal actionnya baru satu sisi saja, sudah begitu baru satu dua kali (dalam hal ini pasang status promosi), maka usaha Anda tidak bisa dibilang maksimal.

Ada kalanya kita perlu melakukan lebih dari satu langkah. Dalam contoh kasus ini adalah berani untuk berpromosi, dan yang kedua adalah belajar bagaimana cara berpromosi.

Kemudian tak kalah pentingnya adalah bersabar dalam ikhtiar, karena belum tentu hasilnya kelihatan dalam waktu yang singkat. Bukan hal baru dalam dunia penjualan, kita sudah sering mendengar orang-orang yang akhirnya berhasil menjual setelah mengalami banyak penolakan.
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali

Kedua, pernyataan tersebut ada benarnya.
Apa maksudnya?

Apakah ini berarti bahwa ketika seseorang merasa tidak mampu, maka dia memang tidak akan pernah mampu?

Bukan. Mari kita baca kembali kalimat yang telah disebutkan di atas.

“Iri dengan pencapaian mereka, ingin seperti mereka, tapi merasa tak berdaya, merasa tak mungkin bisa mencapai semua itu karena merasa tidak mampu menjadi seperti mereka”.

Kalimat terakhir dalam pernyataan tersebut berbunyi: “…karena merasa tidak mampu menjadi seperti mereka.”

Mari kita lihat dari sudut pandang lain, karena tidak mampu menjadi seperti orang lain bisa juga berarti:

“Kita tidak akan pernah bisa menjadi orang lain, karena kita tidak perlu menjadi orang lain, sebab kita harus menjadi diri sendiri yang sukses di jalan kita sendiri!”
Setiap manusia diturunkan ke bumi ini dengan dibekali potensi masing-masing. Ada yang memanfaatkannya untuk meraih kesuksesan, tapi ada juga yang tidak mau menggalinya dan hanya bisa pasrah membiarkan hidup berjalan apa adanya.

Jadi sangatlah tidak mungkin jika kita tidak bisa apa-apa, bahkan sering kita lihat orang yang cacat pun masih ada yang tetap semangat untuk berkarya. Kalau tubuh kita sempurna tapi masih mengeluhkan tidak bisa apa-apa, maka pertanyaannya adalah:

Sudahkah Anda belajar agar menjadi BISA melakukan sesuatu?
Sudahkah Anda menggali apa potensi yang Anda miliki?
Bagaimana kalau ternyata Anda bisa menjadi lebih baik dan lebih sukses?
Orang-orang sukses adalah orang yang percaya diri dengan kemampuannya, bahkan meskipun ada yang awalnya ragu dan tidak yakin bahwa mereka mampu, tapi setelah dicoba akhirnya mereka tahu bahwa mereka ternyata mampu.

Karena itu bagi Anda yang tidak tahu apa potensi yang Anda miliki, maka beberapa tips berikut bisa Anda coba:

Ikuti tes bakat dan kemampuan seperti talent mapping yang sekarang banyak tersedia di mana-mana. Meskipun tidak selalu 100% akurat, tetapi minimal dari situ Anda bisa mendapatkan gambaran potensi apa yang Anda miliki dan bisa Anda kembangkan.
Buatlah list tentang bidang yang Anda suka, lalu cobalah jalankan satu dulu yang paling klik di hati Anda, dan fokuslah di sana sampai hasilnya kelihatan.
Kontras dengan poin sebelumnya, buatlah list tentang hal-hal yang tidak Anda sukai, yang mungkin Anda hindari karena Anda menganggapnya ribet atau sulit. Tetapi bukan mustahil justru dari hal-hal yang tidak Anda sukai ini lah jalan kesuksesan Anda terbuka, karena ternyata kuncinya Anda hanya harus berani untuk mencoba.
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah:216)
Ketika Anda menganggap sulit sesuatu hal, belum tentu karena hal tersebut benar-benar sulit, melainkan mungkin karena Anda tidak percaya diri untuk melakukannya, takut gagal, takut dengan penilaian orang lain sehingga terbentuklah mental block yang menghambat kemajuan Anda.

Karena itu, jika krisis percaya diri adalah masalah yang menghambat Anda untuk menggali potensi yang Anda miliki, maka hal pertama yang harus Anda lakukan adalah belajar untuk menjadi lebih percaya diri.

Tanpa rasa percaya diri kita akan cenderung tidak berani mencoba hal-hal baru yang sebenarnya bagus untuk kemajuan hidup kita. Ada banyak sekali metode dan cara meningkatkan percaya diri, tetapi Anda bisa mulai dengan percaya pada Sang Pencipta Diri, percaya bahwa tidak mungkin Allah menciptakan Anda tanpa dilengkapi dengan perbekalan berupa kemampuan untuk mengarungi kehidupan ini.

Semua orang punya potensi, termasuk Anda, bahkan sekecil dan seremeh apapun potensi itu di mata Anda atau orang lain. Misalnya Anda terbiasa memasak nasi goreng untuk sarapan dan ternyata nasi gorengnya enak menurut banyak orang, maka bukan tidak mungkin Anda punya potensi untuk sukses sebagai pengusaha kuliner dengan menu utama nasi goreng bahkan meskipun Anda tidak pernah menduga sebelumnya dan tidak pernah merencanakan untuk menuju ke sana.

Jika saat ini Anda merasa frustasi karena orang lain sudah sukses sedangkan Anda masih jalan di tempat karena hidup Anda masih begitu-begitu juga dari tahun ke tahun, maka inilah yang bisa Anda lakukan:

Berhentilah untuk membandingkan diri dengan orang lain, Anda punya jalur kesuksesan sendiri.
Gali potensi Anda sendiri, eksplorasi kemampuan Anda dengan melakukan hal-hal yang Anda suka maupun yang Anda hindari selama ini.
Bangun keyakinan bahwa Anda layak untuk sukses dengan segenap potensi yang telah dianugerahkanNya kepada Anda.
Tak kalah penting, ubah pula definisi Anda tentang sukses, terutama jika definisi Anda tentang sukses adalah materi dan pengakuan dari orang lain.

Materi hanyalah bagian terkecil dari kesuksesan, pengakuan dari orang lain hanyalah efek dari pencapaian yang tidak perlu dijadikan tujuan, sedangkan kesuksesan sejati adalah menjadi pribadi yang dekat dengan Allah yang menggunakan segenap potensinya untuk kebaikan umat demi menggapai ridhaNya dan sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali
Potensi Diri Harta Karun yang Perlu Digali

Copyright © 2013 REAL ARTICEL